👤 Admin FPDM IKIP Siliwangi
🗓️ Rabu, 22 April 2026 / ⏱️ 09:51:13
CIMAHI, IKIP SILIWANGI – Dalam upaya meningkatkan kualitas riset dan angka partisipasi dosen dalam pendanaan eksternal, Fakultas Pendidikan Dasar dan Menengah (FPDM) IKIP Siliwangi menyelenggarakan diskusi ilmiah yang bersifat reflektif dan strategis. Bertajuk "Dari Penolakan Menuju Pendanaan: Refleksi Kritis Proposal Hibah BIMA dan Strategi Perbaikan," kegiatan ini menghadirkan pakar sekaligus praktisi akademis terkemuka, Dr. Maximus Tamur, M.Pd., dari Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng.
Acara yang berlangsung khidmat di Ruang Rapat Aula ini dihadiri oleh jajaran dosen dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Pendidikan Matematika. Diskusi ini tidak sekadar menjadi forum berbagi ilmu, melainkan sebuah ruang kontemplasi bagi para pendidik untuk membedah anatomi kegagalan dan merajut kembali optimisme dalam kompetisi hibah nasional melalui platform BIMA (Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat).
Membuka sesi pemaparan, Dr. Maximus Tamur menekankan bahwa proses pengajuan hibah seringkali dipandang sebagai beban administratif, padahal sejatinya ia merupakan manifestasi dari kualitas intelektual dan kepekaan sosial seorang dosen. Beliau menyoroti fenomena "penolakan" yang sering dialami oleh para pengusul, yang menurutnya jarang disebabkan oleh kurangnya kemampuan intelektual, melainkan lebih pada lemahnya strategi penyajian dan ketidakpatuhan terhadap standar substansi yang ditetapkan oleh Kemendikbudristek.
"Penolakan bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan data awal untuk melakukan kalibrasi ulang terhadap ide-ide kita," ujar Dr. Maximus di hadapan para peserta. Beliau menjelaskan bahwa banyak proposal gugur di tahap awal karena gagal membangun gap analysis yang kuat. Ketidakmampuan pengusul dalam menunjukkan kebaruan (novelty) dan relevansi riset dengan rencana induk penelitian nasional menjadi batu sandungan utama yang dibahas secara mendalam dalam diskusi ini.
Setelah membedah berbagai titik lemah, diskusi berlanjut pada pemaparan strategi perbaikan yang sistematis. Dr. Maximus membagikan formula praktis dalam menyusun proposal yang "memikat" mata reviewer. Beberapa poin krusial yang ditekankan antara lain:
Ketajaman Rumusan Masalah: Proposal yang baik harus mampu menjawab pertanyaan "mengapa penelitian ini harus dilakukan sekarang?" dengan argumen yang didukung data mutakhir.
Kesesuaian dengan Skema BIMA: Penulis harus memahami karakteristik skema yang diambil, apakah itu Penelitian Dosen Pemula (PDP), Penelitian Fundamental, atau skema lainnya, karena setiap skema memiliki ekspektasi luaran yang berbeda.
Sinkronisasi Rekam Jejak: Dr. Maximus mengingatkan pentingnya membangun profil di SINTA dan Google Scholar yang selaras dengan topik yang diusulkan. Integrasi antara rekam jejak pengusul dengan urgensi topik menjadi nilai tambah yang signifikan.
Metodologi yang Rigid: Seringkali, bagian metodologi dianggap remeh. Namun, dalam refleksi kritis ini, ditekankan bahwa kejelasan alur kerja dan ketepatan instrumen adalah penentu kredibilitas sebuah riset di mata penilai.
Kehadiran dosen-dosen dari PGSD dan Pendidikan Matematika memberikan dinamika tersendiri dalam diskusi. Interaksi lintas disiplin ilmu ini memunculkan peluang kolaborasi riset yang lebih luas. Dr. Maximus mendorong agar dosen-dosen di lingkungan FPDM IKIP Siliwangi mulai berpikir untuk membentuk tim riset kolaboratif yang menggabungkan pendekatan pedagogis sekolah dasar dengan ketajaman analisis matematis.
Dalam sesi tanya jawab, para dosen sangat antusias mendiskusikan hambatan teknis yang mereka hadapi, mulai dari kendala administrasi di portal BIMA hingga kesulitan dalam mencari literatur internasional yang bereputasi untuk memperkuat landasan teori. Dr. Maximus dengan lugas memberikan solusi-solusi praktis dan motivasi agar para dosen tidak menyerah pada percobaan pertama.
Kegiatan ini diharapkan menjadi katalisator bagi peningkatan atmosfer akademik di IKIP Siliwangi, khususnya di lingkungan FPDM. Dekanat berharap melalui refleksi kritis ini, persentase kelulusan proposal hibah BIMA dari dosen PGSD dan Pendidikan Matematika dapat meningkat secara signifikan pada siklus pendanaan mendatang.
Lebih dari sekadar memburu pendanaan, diskusi ini mempertegas komitmen FPDM IKIP Siliwangi dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan standar kualitas yang tinggi. Dengan mendatangkan narasumber sekaliber Dr. Maximus Tamur, institusi menunjukkan keseriusannya dalam membekali para dosen dengan amunisi intelektual yang kompetitif di kancah nasional.
Diskusi diakhiri dengan komitmen bersama untuk melakukan peer-review internal terhadap draf-draf proposal yang sedang disusun oleh para dosen sebelum diunggah ke sistem. Langkah ini diambil sebagai bentuk implementasi langsung dari strategi perbaikan yang telah didiskusikan, memastikan bahwa setiap proposal yang keluar dari rahim FPDM IKIP Siliwangi telah melalui proses kurasi yang ketat.