👤 Admin FPDM IKIP Siliwangi
🗓️ Jumat, 22 Mei 2026 / ⏱️ 10:33:25
CIMAHI – Hanya berselang singkat setelah penandatanganan berkas kerja sama resmi, Fakultas Pendidikan Dasar dan Matematika (FPDM) IKIP Siliwangi bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) langsung tancap gas merealisasikan poin-poin kesepakatan. Implementasi perdana ini diwujudkan melalui gelaran Kuliah Umum tingkat inter-fakultas yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting pada hari Kamis, 21 Mei 2026.
Kuliah umum yang mempertemukan kurang lebih 480 peserta dari lingkungan FPDM IKIP Siliwangi dan FEB Unjani ini menghadirkan narasumber utama yang merupakan pakar di bidang manajemen sekaligus Dekan FEB Unjani, Dr. Mochamad Vrans Romi, S.E., MM., N.IP., CHRA. Dalam kesempatan tersebut, beliau memaparkan materi krusial dan sangat kontekstual dengan realitas pemuda saat ini, yang bertajuk "Bertahan & Bertumbuh: Edupreneur di Tengah Tekanan Generasi Sandwich".
Agenda ini dirancang untuk membuka cakrawala berpikir mahasiswa lintas disiplin ilmu dalam menghadapi tantangan finansial dan sosial di masa depan. Kolaborasi akademik yang dihadiri oleh ratusan partisipan aktif ini membuktikan bahwa sinergi antara aspek kependidikan dan penguatan ekonomi mampu menghasilkan formula edukasi yang solutif bagi generasi muda.
Konsep edupreneur, atau kewirausahaan di bidang pendidikan, menjadi benang merah yang mengawinkan keunggulan akademik FPDM IKIP Siliwangi yang kuat di bidang pedagogi serta sains, dengan FEB Unjani yang unggul dalam tata kelola bisnis dan manajerial.
Dr. Vrans Romi menekankan bahwa mahasiswa pendidikan dasar dan matematika memiliki aset intelektual yang luar biasa tangguh untuk dikonversi menjadi unit bisnis kreatif. Di era digitalisasi seperti saat ini, peluang industri edukasi berbasis teknologi (edutech) dan konten kreatif pendidikan terbuka sangat lebar.
Inovasi Produk Pembelajaran: Memanfaatkan keahlian matematika dan ke-SD-an untuk menciptakan media pembelajaran digital, aplikasi edukasi interaktif, atau modul pembelajaran mandiri yang memiliki nilai jual.
Optimalisasi Jasa Edukasi Berbasis Digital: Membuka lembaga bimbingan belajar berbasis daring (online tutoring) dengan jangkauan wilayah yang luas tanpa terbatas sekat geografis.
Pengembangan Konten Kreatif Edukatif: Mengemas materi sains dan pendidikan dasar menjadi konten edukasi yang menarik di media sosial, yang tidak hanya mencerdaskan tetapi juga mendatangkan monetisasi.
Penerapan Manajemen Finansial yang Ketat: Memisahkan pendapatan usaha dengan uang pribadi serta melakukan investasi leher ke atas demi meningkatkan nilai jual diri (personal branding).
"Melalui edupreneurship, mahasiswa tidak perlu menunggu lulus untuk bisa menghasilkan pendapatan mandiri. Ketika kemampuan mendidik berpadu dengan kejelian melihat peluang pasar, maka tekanan finansial akibat generasi sandwich dapat diredam secara perlahan," tambah Dekan FEB Unjani tersebut.
Dalam pemaparannya, Dr. Mochamad Vrans Romi membuka sesi dengan menjelaskan fenomena sandwich generation(generasi sandwich)—sebuah istilah yang menggambarkan kondisi finansial seseorang yang terjepit di antara dua generasi, yaitu keharusan membiayai orang tua atau generasi di atasnya sekaligus mencukupi kebutuhan diri sendiri atau generasi di bawahnya.
Menurut Dr. Vrans Romi, tekanan sebagai generasi sandwich bukan lagi sekadar isu struktural keluarga, melainkan sudah menjadi tantangan nyata yang mulai dirasakan oleh mahasiswa tingkat akhir maupun para alumni muda perguruan tinggi.
"Banyak lulusan baru yang begitu keluar dari bangku kuliah tidak hanya memikirkan bagaimana menghidupi diri sendiri, tetapi juga langsung memikul tanggung jawab menjadi tulang punggung keluarga. Tekanan ekonomi ini sering kali menghambat mereka untuk berkembang secara optimal jika tidak disiasati dengan strategi literasi keuangan dan kemandirian ekonomi yang matang," jelas Dr. Vrans Romi di hadapan ratusan peserta virtual.
Beliau menambahkan bahwa mahasiswa masa kini tidak boleh hanya sekadar pasrah menerima keadaan tersebut sebagai beban, melainkan harus mampu "bertahan dan bertumbuh" (survive and thrive). Salah satu jalan keluar strategis yang ditawarkan bagi mahasiswa kependidikan dan ekonomi adalah dengan mengadopsi mentalitas dan mempraktikkan konsep edupreneurship.
Meskipun dilaksanakan secara virtual, jalannya kuliah umum ini berlangsung sangat dinamis dan interaktif. Keterbatasan ruang fisik tidak menyurutkan semangat para peserta. Hal ini terlihat jelas dari membeludaknya kuota ruang virtual Zoom hingga mencatatkan kehadiran sebanyak 474 partisipan, yang terdiri dari unsur mahasiswa lintas program studi dari kedua universitas serta para dosen pendamping.
Kolom obrolan Zoom dipenuhi oleh diskusi hangat, di mana banyak mahasiswa mengajukan pertanyaan langsung pada sesi tanya jawab. Mahasiswa FPDM IKIP Siliwangi banyak mengeksplorasi teknis memulai bisnis edukasi dari nol tanpa modal besar, sementara mahasiswa FEB Unjani tertarik pada bagaimana mengemas sebuah nilai edukasi agar memiliki daya tarik pemasaran yang tinggi dan dilirik oleh investor.
Menanggapi antusiasme yang luar biasa tersebut, pihak dekanat FPDM IKIP Siliwangi menyatakan rasa puas dan bangganya atas pelaksanaan kegiatan ini. Kuliah umum ini dinilai sukses besar, tidak hanya dari segi kuantitas peminat yang mencapai hampir lima ratus orang, tetapi juga dari kualitas materi yang berhasil memberikan suntikan motivasi sekaligus pembekalan praktis yang melampaui teori kurikulum konvensional di dalam kelas.
Pelaksanaan kuliah umum daring yang sukses menyedot perhatian ratusan mahasiswa ini menjadi pembuka dari rangkaian panjang implementasi kerja sama (Implementation Arrangement) yang telah disepakati oleh kedua fakultas. Baik FPDM IKIP Siliwangi maupun FEB Unjani berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan-kegiatan akademik yang inovatif, yang mampu memberikan dampak instan dan positif bagi kompetensi mahasiswa.
Ke depan, program-program lanjutan seperti riset kolaboratif antara dosen kedua universitas mengenai pemetaan ekonomi keluarga guru, serta program pengabdian masyarakat bersama untuk pembinaan UMKM berbasis pendidikan, akan segera digulirkan. Dengan langkah nyata ini, kerja sama antar-institusi terbukti bukan sekadar formalitas seremonial, melainkan motor penggerak mutu pendidikan tinggi yang progresif.